Indonesia merupakan Negara berpenduduk Islam terbesar di dunia dengan pengaruh kejayaan kerajaan Islam lampau yang masih sangat membekas dalam ingatan masyarakatnya, hal ini mempermudah masuknya sejumlah gerakan revivalis Islam transnasional yang bahkan sebagiannya telah membesar sampai ke pelosok-pelosok di nusantara, di satu sisi cukup menggembirakan namun di sisi lain di khawatirkan mampu memecah belah umat menjadi klan-klan yang masing-masing bersikukuh dengan kebenarannya. Maka untuk itulah tulisan ini sengaja akan mencoba membedah secara ringkas konsep gerakan Islam di mulai dari landasan, metode merubah masyarakatnya dan faktor-faktor yang melatarbelakangi kegagalan gerakan tersebut, sehingga nantinya kita tidak salah dalam menentukan kutlah (kelompok) mana yang akan diikuti.
Suatu hari saya bertemu dengan salah seorang praktisi/penulis dari salah satu partai lokal di Aceh, awalnya pertemuan ini karena permintaan saya di milisnya. Saya tertarik ingin bertemu karena pada satu kesempatan pernah menghadiri presentasi beliau dan jujur saya cukup terkesan dengan beberapa ulasan yang beliau paparkan.
Maksud dari pertemuan itu bagi saya untuk mendapatkan perkembangan terbaru dari aktifitas partai di mana beliau sendiri sebagai staff ahli politik di dalamnya, saya berharap mudah-mudahan beliau dapat memberikan masukan-masukan terkait perkembangan politik di Aceh. Ketika saya memperkenalkan diri beliau langsung merespon baik disertai basa-basi dengan bertanya aktifitas sehari-hari, saya menjawab setiap pertanyaan beliau tanpa pikir panjang karena memang tidak ada yang istimewa dari setiap aktifitas harian yang terlakoni.
Cukup menarik membaca judul buku tulisan Arif Ramdan — Aceh di Mata Urang Sunda, menarik karena dengan mudah kita dapat menebak seputar isi yang tidak akan jauh-jauh dengan pandangan orang Sunda terhadap Aceh. Saya yakin bagi mereka yang selama ini menaruh perhatian terhadap perkembangan budaya Nanggroe pasti akan membacanya, karena biasanya orang Aceh phobia dengan analisa pakar luar yang sering tidak tepat menggambarkan kondisi Aceh.
Saya tidak menyangka bahwa isi dari buku ini adalah catatan keseharian berdasarkan pengamatan penulisnya, bukan analisa secara akademis yang bertumpuk rujukan namun di ujung seringkali salah dalam mengambil kesimpulan. Arif Ramdan ternyata menulis apa adanya sesuai dengan yang dialaminya sehari-hari selama dia menetap di Aceh sekaligus sebagai wartawan Serambi Indonesia.
Siang itu (Rabu, 16/04/09) udara pelabuhan Balohan Sabang terasa panas menyengat, keadaan disekelilingnya berdebu dan semrawut. Wajar, pelabuhan memang dalam proses renovasi. Saya, ust. Ferdiansyah Sofyan (Ketua DPD II HTI Banda Aceh) dan ust. Marseno (Utusan Lembaga Wakaf Al-Qur’an) tiba ke sabang sekitar pukul 12.00 siang dengan membawa satu pick-up terbuka yang berisi logistik bantuan.
Namun mobil pick-up tersebut tidak bertugas mengantar logistik ketujuan karena kami hanya meminjam dan harus dikembalikan pada rute kapal selanjutnya. kemudian transportasi dari Balohan ke basis penampungan pengungsi di dermaga LANAL sepenuhnya di bantu oleh Dandim Sabang Letkol Iwan S sehingga kami tidak mengeluarkan sedikitpun cost untuk transportasi, terima kasih pak Dandim.
PEMILU yang digembar-gemborkan oleh media sebagai penentu masa depan Indonesia sudah berlalu beberapa waktu lalu (pelaksanaan PEMILU Kamis, 09 April 2009), apapun hasilnya sepertinya memang tidak akan berpengaruh signifikan terhadap perubahan dan kesejahteraan. Ya setidaknya begitulah yang ada di benak saya, termasuk golongan manakah anda? Golput atau bukan bagi saya tidak menjadi masalah karena memilih sendiri adalah merupakan hak bukan kewajiban.
Minus 1 hari menjelang PEMILU, Handphone saya mulai di banjiri SMS dari para caleg dan pengurus partai, isinya tentu seperti yang juga anda terima, sebagian besar SMS adalah merupakan seruan untuk memilih yang bersangkutan dan mohon doa restu. Namun diantara sekian banyak yang masuk hanya satu SMS yang memikat perhatian saya, pesan itu berasal dari ketua PDA (Partai Daulat Aceh) yaitu Tgk. Harmen Nuriqmar.