Ferza | Ingatan, Politik, Aceh dan Islam

Sekedar Renungan

Malam ini alunan lagu Donna-donna Joan Baez terdengar begitu merdu di telinga sementara di luar hujan semakin deras mengguyur kota Banda Aceh, ingatan saya kembali ke masa lalu di mana rekaman lagu masih di putar menggunakan piringan hitam. Logat khas spanyol dari lekukan lirik Donna-donna memudarkan sejenak penat kehidupan yang sejak seharian penuh mengikuti langkah, jam menunjukkan pukul tiga pagi tapi mata belum juga mampu terpejam, dalam keheningan saya mencoba berkonsentrasi sejenak pada apa yang terjadi seharian tadi di luar.

Banda aceh masih sama ketika pertama kali saya datang ke sini, meski tsunami telah meluluhlantakkan kota dan perjanjian damai telah di tanda tangani tapi kondisi masih tetap sama,  hanya saja kami tidak pernah lagi mendengar nyalakan senjata.  Kota kami hanya berubah dari sisi banyaknya toko dan menjamurnya  warung kopi, selebih itu tidak ada yang menggembirakan. Kemegahan museum tsunami tetap tidak mampu menutupi kondisi betapa morat-maritnya ekonomi rakyat di propinsi ini.

Sekarang sudah tidak ada lagi mobil NGO (Non Govermant Organization) yang bersliweran dan pekerjanya yang mendadak high class tiba-tiba berubah kembali menjadi masyarakat biasa, dampak tsunami memang telah pulih tapi dampak perekonomian yang di timbulkan lembaga bantuan pasca rehabilitasi dan rekonstruksi belum pulih. Bertaburnya uang yang beredar di aceh ketika masa perbaikan pasca tsunami telah menimbulkan gelembung ekonomi, harga makanan menjadi mahal, harga sewa ruko menjulang naik dua kali lipat sementara uang sudah tidak ada lagi di sini.

Pemerintah propinsi selama 3 tahun masa kepemimpinan belum mampu meciptakan perubahan, tidak ada program yang mengakar pada rakyat kecil, yang ada hanyalah program mercusuar yang tidak menyentuh akar masalah. Stagnannya kekuasaan daerah memaksa berbagai pihak untuk turun ke jalan menuntut perbaikan, tapi sayang meski sampai harus bentrok dengan aparat dan membuat posko keprihatinan kegagalan pemerintahan Irwandi-Nazar  namun suara rakyat tetap hanya di anggap perbedaan pendapat yang wajar dalam berdemokrasi, tidak ada tindak lanjut!

Bila sejumlah orang masih mengatakan bahwa masalah ini semua di timbulkan oleh ketidakmatangan penerapan demokrasi maka saya justru sudah tidak lagi percaya bahwa demokrasi dapat menyelesaikan masalah, bagi saya ia hanya mendatangkan mudarat berulang sehingga siapapun yang nantinya duduk di puncak kekuasaan bila masih menggunakan sistem yang sama pasti akan melakukan kesalahan yang sama.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa perubahan tidak akan terjadi bila kita tidak memulainya, sudah buang jauh-jauh pandangan tentang nasionalisme beserta relevansi penerapan demokrasi dan segera beralih kepada sistem alternatif (Syariat-Islam) karena kita tentu tidak ingin menjadi orang yang berkutat pada masalah yang sama berkali-kali. Maka mulai dari sekarang, segeralah bergabung dengan saudara-saudara anda yang sedang memperjuangkan haknya untuk hidup dalam naungan Islam, kita harus bahu membahu menegakkan kembali aturan ilahi bila ingin untuk bersama hidup di dalamnya.

Allah SWT telah berfirman :

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS Al Maidah ayat 50)

Maka renungkanlah!

Hujan di luar masih tetap deras namun lagu Joan Baez sudah sampai pada ulangan lirik yang terakhir, saya harus tidur sejenak agar punya kekuatan untuk menjalankan rutinitas esok, salam hangat selalu untuk sahabat di luar sana yang sudah mulai melawan dan percayalah bahwa kita pasti menang.

Stop complaining, said the farmer,
Who told you a calf to be,
Why don
t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free.

Halaman Komentar

Ada 18 Komentar untuk "Sekedar Renungan"

  • template websitenya bagus sekali. Minimalis namun kerasa. Saya suka

  • Aulia says:

    berawal dari dalam diri dan ciptakan suasana yang bisa membuat perbaikan, hijrah yang baik merupakan langkah untuk menuju yang hakiki.

    ~komen beben emng benar, minimalis dan melegakan mata (suka dgn gaya dan warna) :)

    • Ferza says:

      saya rasa setiap dari kita perlu untuk merenung sejenak..melihat berbagai persoalan di sekitar..meskipun dgn cara2 yang berbeda..tapi nilai-nilai kepedulian kita pasti sama..karena kita sama2 manusia…

      terima kasih sekali lagi atas pujiannya.. :-)

  • alief says:

    semog SAJA aceh cepat pulih, baik kembali keadaan ekonominya

  • Saya suka tahi lalatnya ajalah :D

  • sauskecap says:

    jika demokrasi sudah tidak menyelesaikan masalah, lalu kita butuh apa? pemimpin diktatorkah? kapitalisme kah?

    • Ferza says:

      tentu kalau itu pertanyaannya maka saya akan menjawab sistem Islam..Daulah Islam bukanlah negara diktator juga bukan monarki..letak perbedaannya adalah di mana konsep yang di berlakukan bukan suara Raja akan tetapi Al-Qur’an dan Haditsh..tidak mungkin menjelaskan secara detail di sini..tapi Insyaallah ke depan saya akan mencoba untuk menceritakannya di sini..Kapitalisme dan turunanannya seperti Demokrasi, Liberalisasi Ekonomi, dan isme-isme yang lain sebentar lagi akan tumbang..ini bukanlah se mata2 harapan..tapi juga berdasarkan atas pengamatan realitas yang terjadi..di lihat dari sisi kesadaran kaum muslimin yang semakin kuat..terima kasih telah berkunjung :-)

  • kyaine says:

    hukum ciptaan Allah adalah yg paling tinggi, tiada yg bisa menandinginya.
    di proses berdemokrasi ini, saya semakin heran saja knp ada yg merendahkan hukum paling tinggi itu yg meletakkannya di bawah peraturan daerah?

    • Ferza says:

      saya sangat sepakat dengan anda..seperti itulah yang kini terjadi di Aceh..penerapan yang serba tanggung menjadikan Syariat Islam gagal menyelesaikan problem masalah..parahnya ini kemudian menjadi justifikasi untuk mengatakan bahwa hukum Syara’ sudah tidak pantas di berlakukan karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan sosial dunia modern..Qanun-qanun di Aceh hanya Perda dan institusi pelaksananya hanya sebatas Dinas..bagaimana mau menyeluruh kalau seperti ini…

  • Citra Rahman says:

    dulunya (atau sekarang juga?) banyak orang yakin demokrasi bisa menyelesaikan masalah dan sekarang kita berharap pada syariat islam untuk itu. aku bukannya ga percaya dengan demokrasi atau apapun itu namanya. tapi aku bosan terus berharap dan yang bisa aku lakukan hanya berbuat untuk diri sendiri. apa sii yang harus diperbaiki?

    • Ferza says:

      berharap dalam artian di sini bukanlah tanpa melakukan apa2..yang perlu di bentuk adalah pola kesadaran pada masyarakat akan pentingnya institusi pelaksana syariat..bila pemikiran ini semakin massif di terima maka perubahan akan lebih cepat terlaksana..dalam kasus Aceh sebenarnya ada starting yang bagus untuk memulai itu..karena rata2 masyarakat Aceh mempunyai perasaan yang kuat akan kebenaran Islam..di luar itu masing2 kita bisa berbuat lebih real lagi seperti mendirikan lembaga keuangan percontohan, kursus2 ideologis pada remaja..membangun pustaka2 umum untuk pencerahan atau upaya mengimbangi media dengan menerbitkan media2 alternatif..saya menulis ini hanya sebagai media sharing saja bagi mereka yang belum saya kenal di dunia nyata..mudah2an mereka bisa jadi teman atau jaringan bagi saya selanjutnya..karena upaya perlawanan butuh teman! ..terima kasih telah berkunjung.. :-)

  • annosmile says:

    saya pengen mengetahui kabar dan suasana aceh saat ini
    kapan artikel ini ditambah foto2 suasana aceh saat ini

    • Ferza says:

      saya tidak menulis secara khusus tentang suasana umum Aceh..tapi mungkin nanti akan saya coba untuk menampilkan laporan melalui foto2..mengenai penambahan artikel baru..ya saya juga belum tahu ini..tergantung mood lah :-)

  • Syahuri says:

    tiada kemuliaan tanpa islam!

    artikel ini udah lama nebeng di ferza.net, tapi saya baru baca hari ini, he he he.
    benar-benar menjadi bahan renungan yang berkualitas.

    thanks for this great post!

Tulis Sebuah Komentar

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>