Kopi Kental Rasa Digital
Ada pemandangan menarik bila kita sesekali berkeliling Kota Banda Aceh, satu persatu Ruko (Rumah Toko) yang berjejer sepanjang jalan kini mulai di sulap menjadi “waroeng kupi” (Kedai Kopi), dengan konsep yang cukup beragam tentunya. Diawali dengan Open House satu dua hari plus tawaran minum-minum gratis yang biasanya cukup menggiurkan bagi para konsumen ala kutu loncat meskipun tak jarang juga yang tetap setia dengan tempat kongkow nya dulu dan nyaris bahkan tidak terpengaruh iming-iming menggiurkan tempat lain meskipun sudah show abis.
Tawaran minum-minum gratis bukan berarti juga sebagai jaminan bagi keberlangsungan Waroeng tersebut di kemudian hari, tak jarang itu menjadi awal sekaligus akhir baginya asbab Kopi sebagai menu utama tidak boleh tidak mesti mempunyai cita rasa yang khas seperti pendahulu-pendahulu mereka yang sudah lebih awal Berjaya. Sebut saja beberapa seperti Jasa Ayah Ulee Kareeng (kini sudah punya beberapa cabang), Chek Yukee (sekarang Tepi Kali) atau Topik (kini sudah punya beberapa cabang), boleh dikatakan mereka-mereka yang saya sebut di atas belum terkalahkan sampai sekarang dalam hal cita rasa hasil ramuannya.
Berangkat dari itulah kemudian sepertinya kopi tidak lagi di jadikan semata-mata sebagai komoditas penarik pelanggan oleh Kedai-kedai baru tapi bisa jadi hanya pelengkap bagi produk yang lain yaitu fasilitas Wifi, terbukti dari penampakan pamplet-pamplet Waroeng yang sekarang jelas-jelas memasang logo wifi jauh lebih besar ketimbang Kopi sebagai label trademark yang sebenarnya.
Dari pemantauan saya inovasi tambahan ini mampu menjadi daya tarik baru bagi pelanggan kopi terutama parte muda alasannya daripada dia harus nongkrong di Warung Internet (Warnet) dengan membayar tagihan pemakaian perjam, di sini dia justru dapat fasilitas online gratis. Tidak seperti Warnet yang memiliki lingkup terbatas, Warung Kopi justru lebih bebas dalam segi ekspresi tanpa sekat-sekat room. Atau mungkin juga strategi ini di kembangkan karena tidak semua orang punya kebiasaan minum kopi atau pecandu kopi, tidak jarang terlihat pelanggan yang duduk tidak memesan kopi akan tetapi minuman ringan lain khas Resto.
Dampaknya jelas sistemik, karena mau tidak mau hal tersebut memaksa sejumlah waroeng-waroeng kopi yang lebih gaek dan kalah dari cita rasa kopi untuk ikut serta ambil bagian agar tidak kehilangan kesempatan. Lalu bayangkan bagaimana bila semua warung kopi di Banda Aceh menyediakan Wifi?
Kedai-kedai konvensional memang masih banyak tersebar di pinggiran-pinggiran kota Banda Aceh, berbekal konsep sederhana ala kadarnya waroeng-waroeng ini biasa hanya di huni oleh orang-orang tua yang kebanyakan telah menjadi pelanggan lama kedai tersebut, hal itu bukan berarti mereka tidak memiliki kompetensi dalam cita rasa, namun boleh jadi sebagai upaya mempertahankan tradisi turun temurun atau karena alasan klasik seperti kurang modal.
Menjamurnya kedai kopi wifi di Banda Aceh sekarang dalam amatan saya memiliki korelasi positif bagi perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat di dunia, tanpa mengikuti pencanangan kota Cyber City pun Koetaradja (sebutan lain Banda Aceh) khususnya telah menjadi kota Virtual dengan sendirinya, rasakanlah bagaimana anda bisa terus mengakses informasi digital dari mulai memasuki gerbang kota sampai keluar menuju perbatasan wilayah Aceh Besar.
Fungsi awal waroeng kupi yang lazim di gunakan sebagai tempat bercengkrama, silaturahmi, melepas penat, nyari inspirasi, ngomong politik, sosial, budaya, bahkan sampai cari kerja kini menjadi bertambah sebagai pusat untuk mengakses informasi unlimit dunia maya. Keadaan ini menjadi perkembangan yang menggembirakan khususnya bagi pecandu kopi seperti saya karena tidak hanya buang duit untuk ngopi tapi juga sekaligus mampu menghemat pengeluaran rutin untuk internet, ya seperti pepatah “sambil menyelam minum air” gitu.
Budaya oral Waroeng Kupi di Aceh harus di akui bukanlah aktifitas sia-sia belaka, banyak saya membaca artikel dan mendengar pengalaman tentang bagaimana orang bisa menciptakan inovasi berawal dari ngobrol-ngobrol ringan di sini, hingga tidak jarang kemudian kita melihat aktifitas seperti dialog terbuka sosial bahkan launching produk dan bedah buku sekalipun.
Waroeng kupi di Aceh saya rasa bukanlah simbol kemalasan masyarakat seperti yang di opinikan selama ini, tapi dia justru menjadi ikon budaya yang bisa di tonjolkan sebagai salah satu daya tarik kultur masyarakatnya. Terlebih lagi dengan cita rasa yang memang khas dari setiap sajian kopinya, kini wifi hadir sebagai media yang lebih cepat menyajikan informasi untuk di diskusikan bersama sambil istirahat sejenak. Di sini secangkir kopi, para sahabat dan netbook bisa menjadi media produktif bila anda manfaatkan, tinggal sekarang pilihan di tangan anda, mau ngopi aja atau sekaligus koneksi.
Tulisan ini telah dimuat Harian Aceh edisi Tgl 21/02/2010 hal. 4 kolom IPTEK.




Ada 4 Komentar untuk "Kopi Kental Rasa Digital"
cofee break tembakkan hootspot emang manjadi pilihan yang sangat menyenangkan, tetapi aksesna cepet gak ya
memang selalu jadi pilihan yang menyenangkan..aksesnya ya beragam..ada yang cepat..ada yang lemot abis..tergantung tempat juga..
sejauh mata memandang ada kedai kopi di aceh lon sayang
begitulah adanya..ada segi positifnya namun tak jarang juga yang hanya meninggalkan sisi negatif..seperti kebiasaan ngopi sambil main poker gitu..